Ekspansi Mongol Sampai di Kerajaan Kahedupa

663
Ahmad Daulani, S.Si,. MM

Spiritsultra.id – Bangsa mongol adalah masyarakat nomaden yang berasal dari pegunungan mongolia yang membentang dari asia tengah sampai siberia utara, tibet selatan dan turkistan timur. Nenek moyang mereka bernama alanja khan yang mempunyai dua putra kembar benama tartar dan mongol.

Dari kedua orang inilah yang melahirkan dua suku bangsa besar yaitu mongol dan tar tar. Dalam  kurun waktu yang cukup lama bangsa mongol bertahan dengan menjalani kehidupan yang sangat sederhana. Mereka mendirikan kemah-kemah dan berpindah pindah dari tempat satu ketempat yang lain, mengembala dan hidup dari hasil buruan.

Sebagaimana bangsa nomaden pada umumnya, orang orang mongol mempunyai watak yang kasar, suka berperang, dan berani menghadang maut demi mencapai keinginanya. Bangsa mongol juga dikenal dengan kesetiaan dan kepatuhan terhadap pemimpin mereka.

Pada mulanya keyakinan yang di anut bangsa mongol adalah syamanisme (syamaniah) yaitu keyakinan yang menyembah matahari sedang terbit, bintang-bintang, dan menyembah kepada arwah-arwah terutama kepada roh jahat yang dianggap mampu mendatangkan bencana. Disamping itu bangsa mongol juga sangat memuliakan arwah-arwah nenek moyang mereka yang dianggap masih memiliki kekuasaan untuk mengatur hidup keturunannya.

Salah satu ritual syamanisme yang sering di lakukan yakni dalam berkomunikasi dengan arwah dengan menggunakan sesajian, dupa dengan mantra dan gerakan yang sangat khas. Kemajuan besar-besaran bangsa Mongol barulah di mulai pada masa kepemimpinan Timujin atau Jenghis Khan dimana pada masa itu bangsa Mongol berhasil menyatukan 13 kelompok suku. Jenghis khan memimpin bangsa mongol diusia 13 tahun menggantikan ayahnya Yasughei Khan.

Selama 30 tahun ia melatih dan memperkuat pasukan perangnya sehingga menjadi pasukan yang teratur dan tangguh. Dalam aturan ilyasiq yang menjadi undang-undang bangsa Mongol, laki-laki dan perempuan meiliki kewajiban yang sama dalam kemiliteran. Pasukan perang Mongol dibagi dalam kelompok besar dan kecil, tiap tiap kelompok dipimpin oleh satu orang komandan.

Setelah pasukan perangnya terorganisir dengan baik, Jenghis Khan berusaha memperluas wilayah kekuasan dengan melakukan penaklukan wilayah lain. Serangan pertama diarahkan ke Kerajaan Cina dan berhasil mendudukinya pada tahun 1215 M.

Dimasa  kepemimpinan hulagu khan sasaran penyerangan diarahkan ke negeri negeri Islam yang puncaknya adalah penyerangan kota Baghdad sebagai pusat peradaban dunia Islam dibawah kepemimpinan Khalifah Al Mutashim II yang merupakan penguasa terakhir dari khalifah abbasyiah. Dengan pembantaian kejam,  kota baghdad di taklukkan dan berhasil dikuasai pada tahun 1258 M. Masa ini menandai berakhirnya kekuasaan Bani Abbasiyah. Bangsa mongol memperkuat kekuasaannya diwilayah tersebut selama ± 2 tahun.

Selanjutnya mereka mulai bergerak ke wilayah Syria dan Mesir menyeberangi sungai Eufrat dan berhasil menaklukan wilayah nablus dan gaza pada tahun 1260 M. Setelah menguasai syria pasukan mongol terus bergerak ke wilayah mesir yang merupakan pusat kota dinasti mamluk. Namun di mesir Mongol mendapat perlawanan yang sangat kuat dari kerajaan mamluk dibawah pimpinan Sultan Syarifuddin Qutus.

Tahun 1260 terjadi perang antara mongol dan mamluk di ain jalut yang pada akhirnya mongol mengalami kekalahan terbesar sepanjang sejarah mongol. Sultan Syarifuddin Qutus terus mendesak dan mengusir pasukan mongol keluar dari wilayah Damaskus dan Syria.

Dimasa kepeimpinan Monke Khan, bangsa mongol terus melakukan ekspansi ke wilayah India, Vietnam, Kamboja, Thailand, Rusia,  Asia Tengah, Eropa Timur, Burma, Korea, Timur Tengah bahkan sampai ke kerajaan Jepang dll.

Dimasa kepemimpinan khublai khan pasukan mongol terus melanjutkan ekspansi hingga sampai ke wilayah nusantara. Pada tahun 1293 M,  khublai khai mengirimkan invasi dalam jumlah besar sampai 30.000 pasukan dengan ratusan para perwira. Invasi itu dipimpin oleh 3 orang panglima yaitu shi bi, ike mese dan gao xing.

Pasukan mongol pertama kali mendarat di wilayah tuban, dan mendirikan perkemahan disana. Kemudian iki mese mengirimkan utusan untuk menemui raden wijaya agar tunduk dan mengakui kekuasaan Khublai Khan. Tetapi Raden Wijaya memberikan syarat bahwa akan tunduk pada kekuasaan khublai khan kalau pasukan mongol membantunya melawan jayakatwang dari gelang-gelang yang telah membunuh raja kertanegara dan menghancurkan singhasari. Mongol menyetujui permintaan raden wijaya untuk bergabung untuk melawan jayakarta dan berhasil dikalahkan.

Setelah kemenangan itu raden wijaya meminta izin pulang ke Majapahit dengan alas an untuk mengambil upeti yang akan diserahkan kepada khublai khan. Perjalanan raden wijaya dikawal oleh 2 orang perwira dan 200 pasukan mongol. Ditengah perjalanan raden wijaya berbalik bertempur dengan pasukan mongol yang mengiringinya, kemudian menyerang pasukan mongol diperkemahan yang tengah mengadakan pesta kemenangan mereka.

Dalam penyerangan tersebut, raden wijaya berhasil membunuh panglima shi bi dan ike mese dan ribuan tentara mongol. Dengan kecerdikannya raden wijaya akhirnya berhasil membuat pasukan mongol kocar kacir dan memukul mundur mereka. Pasukan majapahit terus mengejar pasukan mongol sampai keluar dari perairan laut jawa.

Sebagian besar pasukan mongol kembali ke cina dan beberapa kapal lainnya terpisah jauh karena kejaran pasukan majapahit.
Kapal mongol yang telah lama terombang ambing dilautan karena kejaran majapahit sebagian melintasi wilayah kerajaan kahedupa sekitar tahun 1311 m pada masa pemerintahan raja syamsa allamu sebagai raja ke-2 kerajaan kahedupa dengan gelar raja muhammad syamsa allamu.

Kemudian mereka (pasukan mongol) berlabuh dipantai saru saru dan membangun perkemahan disepanjang pantai saru saru. Pasukan mongol yang sampai ke wilayah kerajaan kahedupa dipimpin oleh komanda la donda (sebutan dalam dialek masyarakat lokal). Ada sebagian penutur yang mengatakan bahwa komandan mongol yang sampai ke kerajaan kahedupa itu adalah laksamana congha atau laksamana cengho.

Tetapi oleh sebagian besar penutur sejarah menyatakan bahwa komandan la donda bukanlah laksamana cengho yang di maksud pernah mendatangi wilayah nusantara.
Komandan La Donda sampai ke kerajaan Kahedupa bersama istrinya yang bernama Kunfi (kemudian menjadi wa Rumpi dalam dialek lokal kahedupa) bersama ratusan pasukan terlatih. Setelah berhasil membangun perkemahan, dengan dibekali peralatan perang dan pasukan terlatih komandan la donda ingin menginvasi kerajaan kahedupa. Penyerangan pertama diarahkan untuk menaklukkan wilayah saru saru dan tampara sebagaian.

Dalam penyerangan itu komandan la donda berhasil mengalahkan beberapa kakado yang ditugaskan oleh raja kehedupa untuk menjaga wilayah tersebut. Setelah mengalahkan para kakado, komandan la donda bukan hanya menguasai wilayah yang diinvasinya untuk ditempati, tetapi komandan la donda juga menyebarkan ajaran syamanisme diwilayah yang dikuasainya.

Beberapa bukti peninggalan sisa ajaran syamanisme yang pernah masuk di kerajaan kahedupa khususnya di wilayah saru saru yakni adanya paransangia (tempat pemujaan) didalam benteng la donda, juru kunci makam la donda yang masih melestarikan ritual ritual khas syamanisme salah satunya duduk hormat saat berada didepat makan komandan la donda, juga adanya beberapa gerakan khas syamanisme yang diadopsi dalam budaya masyarakat kaledupa sampai hari ini.

Informasi tentang keberadaan komandan la donda di wilayah kerajaan kahedupa yang sudah mengasai pantai saru saru dan sebagian wilayah tampara akhirnya sampai ke istana di palea dan mulai meresahkan raja syamsa allamu sebagai raja yang memiliki kekuasaan penuh diseluruh wilayah kahedupa termasuk saru saru dan tampara.
Setelah beberapa tahun pasukan mongol berada di wilayah saru saru, raja syamsa allamu memutuskan untuk memerangi pasukan mongol yang pimpinan komanda la donda tersebut.

Dalam penyerangan itu komandan la donda melakukan pertahanan dan perlawan yang kuat diwilayah yang telah dikuasainya dahulu saat diserang tetapi pada akhirnya ia berhasil dikalahkan oleh pasukan kerajaan kahedupa. Setelah penaklukan pasukan mongol,  raja syamsa allahu mengkhawatirkan adanya gerakan pemberontakan  sehingga  mendorong raja syamsa allamu melakukan negosiasi dengan komandan la donda.

Negosiasi tersebut bertujuan untuk mengajak komandan la donda agar sepenuhnya mengabdi dibawah perintah kerajaan kahedupa karena hal ini dikarenakan pasukan mongol dinilai memiliki kemampuan militer dan pengalaman yang cukup banyak. Dalam negosiasi ini juga raja samsa allamu memerintahkan agar pasukan mongol tidak lagi menyebarkan ajaran syamanisme dan bahkan komandan la donda dan pasukan mongol yang masih hidup di ajak untuk memeluk agama islam. Komandan la donda kemudian menyetujui semua isi negosiasi tersebut dan bersedia memeluk agama islam.

Negosiasi antara kerajaan kahedupa dengan komandan la donda diabadikan dengan tombi la donda (tombi makuri yang menandakan kejayaan kerajaan kahedupa pada masa itu). Tombi safika atau tombi la donda (bendera la donda) ini memiliki bentuk yang sama dengan tombi pangnga yang merupakan bendera perang kerajaan kahedupa (tombi pangga dominan berwarna merah). Tapi dalam tombi la donda semua berwarna kuning sebagai symbol kejayaan kerajaan kahedupa dan terdapat simbol lafaz allah, dibawahnya terdapat dua simbol bintang daud ditiap cabang bendera sebagai penanda bahwa penganut syamanisme telah memeluk islam.

Tombi la donda tersebut hanya boleh dikibarkan diwilayah saru saru yang mana merupakan penanda bahwa wilayah itu pernah dikuasai oleh mongol. Tombi la donda juga disebut sebagai tombi safika (bendera kendaraan) karena dengan dikibarkannya  bendera tersebut telah menjadi penanda  dimana komandan la donda dan pasukannya bisa memasuki wilayah benteng pale’a. Sejak dikibarkannya tombi la donda ini, Komandan La donda sudah bisa masuk ke seluruh wilayah kerajaan kahedupa sebagai rakyat kerajaan kahedupa.

Komanda la donda kemudian dibawa kedalam benteng kerajaan Kahedupa untuk dikenalkan dengan suasana kerajaan kahedupa. Sesampai di benteng palea komandan la donda pertama kali mendengarkan syair syair asli kaledupa (fakera) yang dinyanyikan namun tanpa iringan alat musik.

Saat itu kerajaan kahedupa belumlah mengenal alat musik apapun sedangkan komandan la donda sudah mengenal alat musik karena dalam ritual syamanisme menggunakan alat music gendang (ganda). Sehingga komandan la donda mengusulkan kepada sang raja agar syair syair tersebut dinyayikan dengan iringan musik dan kombinasi dengan gerakan-gerakan tertentu sehingga akan menjadi lebih indah.

Usulan la donda ini mendapatkan respon yang sangat baik dari raja syamsa allamu untuk menambah khazanah budaya di kerajaan kahedupa. Perpaduan syair, musik dan gerakan ini menjadilah cikal bakal lahirnya tarian asli kahedupa yang digunakan untuk menyambut tamu-tamu kerjaan. Tarian tersebut kemudian disebut tarian lariangi. Dalam tari lariangi ini terdapat perpaduan budaya dari dua bangsa yang bersatu yang sangat kental, baik dari gesture, syair maupun musiknya.

Komandan la donda kemudian dinobatkan menjadi pangilia paraa (panglima perang) menggantikan la sirilawa ketika wafat. Ketika la donda dinobatkan menjadi panglima perang dia memperkuat pasukan dan armada laut sehingga jabatan pangilia paraa berubah gelar menjadi kapitalao (panglima laut). Kapitalao la donda memiliki seorang putri dari pernikahannya dengan wa rumpi bernama ekka (wa ekka) yang kemudian dipersunting oleh raja samsa allamu untuk menjadi permaisurinya.

Wilayah saru saru yang pernah ditaklukkan oleh la donda kemudian dibangunkan benteng pertahanan oleh raja syamsa allamu pada tahun 1359 M untuk menghalau musuh yang masuk dari wilayah itu. Benteng tersebut kemudian diberi nama benteng la donda, untuk menjadi pengingat rakyat kerajaan kahedupa bahwa wilayah itu pernah ditaklukan oleh komandan la donda,  juga untuk menghormati jasa-jasa la donda bagi kerajaan Kahedupa.

Disusun Oleh – Ahmad Daulani, S.Si,. MM

Komentar Anda